Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Nasib Para Pemain Keturunan di Eropa

Nasib Para Pemain Keturunan di Eropa

Pemain keturunan bukanlah hal yang aneh dalam dunia sepakbola. Meski masih dijumpai beberapa kasus rasial yang mencoreng dunia sepakbola, kiprah mereka ternyata sangat berpengaruh bagi timnya. Tapi bagaimana dengan pemain sepakbola yang awalnya bukan dari negara yang dia tempati sekarang. Akibat sejumlah alasan, seorang pemain sepakbola akhirnya mengubah status kewarganegaraannya. Artinya, ia adalah imigran. Dewasa ini, kasus imigran kembali menguat di Eropa dibumbui oleh prasangka-prasangka rasisme. Kenyataan ini seharusnya tidak berpengaruh pada dunia sepakbola karena banyak sekali para pemain bintang yang justru menyandang status sebagai imigran.

Nasib Para Pemain Keturunan di Eropa

Masalah Tim Nasional

Seorang pemain sepakbola yang menyandang status keturunan imigran memang menghadapi masalah penting terkait pilihan tim nasional. Contohnya terjadi pada sosok Adnan Januzaj. Ia merupakan pemain MU yang pernah direpotkan oleh urusan pilihan tim nasional. Ia sendiri dilahirkan di Belgia dengan berbagai darah campuran, mulai dari Inggris, Turki, dan Serbia. Kakeknya berasal dari Turki, sementara orang tuanya merupakan warga negara Serbia yang akhirnya pindah ke Belgia akibat pembantaian di Kosovo. Akibatnya, ketika ia dihadapkan pada pilihan tim nasional, ia sempat mengalami kebingungan. Namun ia akhirnya memutuskan untuk memilih negara kelahirannya, Belgia.

Jangan lupa juga bahwa Ibrahimovic merupakan pemain keturunan Bosnia dan Kroasia. Kedua orang tuanya memutuskan pindah ke Swedia. Namun perceraian orang tuanya di masa kecil menyebabkan ia merasa lebih nyaman untuk tinggal di Swedia. Padahal, ia memenuhi persyaratan jika ingin masuk ke tim nasional Bosnia atau Kroasia. Keputusannya pun sangat tepat karena bermain di Swedia semakin memuluskan karir sepakbolanya dan mencatatkan namanya sebagai pencetak gol paling produktif di sana.

Fabrice Muamba adalah contoh lain dari ekses peristiwa politik yang menyebabkan keluarganya harus berpindah negara. Berasal dari Kongo, namun akhirnya diajak oleh orang tuanya untuk pindah ke Inggris pada 1994. Di negeri barunya, Muamba mendapatkan pendidikan sepakbola dari Arsenal sejak 2002. Ia pun akhirnya menjadi bagian dari skuad junior tim nasional Inggris dan tidak memilih Kongo. Sayangnya, ia pensiun dini akibat penyakit jantung yang dideritanya. Penyakit yang dideritanya itu menyerang pada tahun 2012 jelang laga melawan Tottenham di ajang FA.

Nani juga merupakan anak imigran Portugal. Sebenarnya ia dilahirkan di Cape Verde. Namun sang ayah kemudian pulang ke asalnya, sedangkan ibu pergi ke Belanda. Ia akhirnya memutuskan untuk membela Portugal dan tidak pulang ke asalnya.

Mengecewakan Negara Asal

Seringkali keputusan seorang pemain mengecewakan negara asalnya. Hal ini juga terjadi pada sosok Ivan Rakitic. Ia lahir dan besar di Swiss. Bahkan ia sempat membela FC Basel di liga sana. Segala persyaratan untuk masuk ke tim nasional Swiss sebenarnya sudah lolos. Tapi ia akhirnya memilih tim nasional Kroasia dan menimbulkan kekecewaan bagi Federasi Sepakbola Swiss.

Patrice Evra lebih dikenal sebagai seorang pemain Prancis. Namun ia sebenarnya adalah kelahiran Senegal. Menginjak usia satu tahun, ia pindah ke Belgia. Lalu pindah lagi ke Prancis dan di sinilah Evra berkenalan dengan dunia sepakbola. Pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan di Senegal membuatnya lebih tertarik untuk bermain di Prancis.

Prancis adalah negara yang banyak sekali pemain keturunan atau imigran. Selain Evra, pemain yang mengalami nasib sama adalah Robert Pires. Lahir sebagai keturunan Portugal dan Spanyol ternyata menyebabkan banyak kesulitan baginya selama masa kecil dan remaja. Sementara itu, ia juga memenuhi persyaratan jika hendak masuk tim nasional Portugal atau Spanyol. Namun sebuah keputusan penting ia ambil dengan tetap bertahan di Prancis. Bagaimanapun juga, di negara ini ia tumbuh dewasa dan sudah sangat terbiasa dengan budayanya. Ia pun menjadi salah satu pemain penting tim nasional Prancis di akhir 90-an.

Dan tentu saja di Prancis kita mengenal Zidane sebagai anak dari orang tua yang menjadi saksi masa-masa sebelum perang Aljazair. Ia masuk syarat sebagai pemain tim nasional Aljazair atau Prancis. Namun ia mengambil keputusan tepat dengan memilih Prancis sebagai tim nasional yang melesatkan namanya sebagai salah satu legenda sepakbola modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *